Harap sertakan source jika ingin copast, thanks :)
DAFTAR ISI
Assalamualaikum Wr. Wb
Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan seluruh alam yang telah
memberikan kesehatan, kesempatan, dan kelancaran kepada saya sehingga mampu
menyelesaikan tugas “Makalah Pendidikan Agama Islam Bab 2: Manusia” dengan
lancar dan tanpa halangan apapun. Sholawat serta salam senantiasa tercurah
kepada junjungan kita, nabi yang membawa kita dari zaman kegelapan menuju zaman
yang terang benderang nabi Muhammad SAW yang kita nantikan syafa’atnya di yumul
kiyamah nanti.
Terimakasih saya ucapkan kepada kedua orang tua saya yang
selalu memberikan kasih sayang dan doa tanpa henti. Tidak lupa terimakasih saya
ucapkan kepada Bp. Drs. Heri Tjahjono, M.Si. selaku dosen mata kuliah PAI
rombel 88 yang telah membimbing serta memberikan ilmu-ilmu yang bermanfaat
kepada saya. Terimakasih pula saya ucapkan kepada pihak-pihak yang telah
membantu terselesaikannya makalah ini tanpa bisa saya sebutkan satu per satu.
Selain pembuatan makalah ini ditujukan sebagai pemenuhan
kewajiban tugas makul PAI, harapannya makalah ini juga dapat bermanfaat dengan
menambah pengetahuan bagi para pembacanya. Dan semoga setelah membaca makalah
ini para pembaca bisa menjadi insan yang lebih baik.
Saya sadari makalah ini jauh dari kesempurnaan, karena
meskipun manusia adalah makhluk paling sempurna yang diciptakan oleh Allah SWT
tapi sesungguhnya tidak ada manusia yang tidak memiliki kekurangan.
Akhir kata, saya kembali mengucapkan terimakasih kepada
semua pihak yang telah berkenan membantu terselesaikannya makalah ini. Semoga
Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha yang telah dilakukan.
Wassalamualaikum Wr. Wb
Semarang, 13
Oktober 2015
Neni Uciati
Manusia
adalah makhluk lemah paling
sempurna yang diciptakan oleh Allah.
Manusia diberi akal untuk berpikir supaya berbeda dengan binatang. Manusia
diberi nafsu untuk membedakannya dengan malaikat. Mengenai proses kejadian
manusia, dalam Al-Qur’an (Q.S. Al-Hijr (15): 28-29) diterangkan bahwa manusia
diciptakan dari tanah dengan bentuk yang sebaik-baiknya kemudian ditiupkan ruh
kepadanya hingga menjadi hidup.
Ahli
ilmu pengetahuan yang bernama Darwin mengemukakan adanya teori evolusi yang
mengatakan bahwa manusia berasal dari makhluk yang mempunyai bentuk maupun
kemampuan yang sederhana kemudian mengalami evolusi dan kemudian menjadi
manusia seperti sekarang ini. Dia mengemukakan bahwa manusia adalah keturunan
dari kera. Disisi lain banyak ilmuan dan ahli agama yang menentang adanya
proses evolusi manusia tersebut. Karena mereka meyakini bahwa manusia yang pertama adalah Nabi Adam a.s. disusul istrinya
Siti Hawa dan kemudian keturunan-keturunannya hingga sekarang ini. Hal ini
didasarkan pada informasi-informasi yang terdapat pada kitab suci Al-Quran yang
mengatakan bahwa Adam adalah manusia pertama. Untuk itu dalam makalah ini akan
dijelaskan tentang apa itu manusia, bagaimana proses kejadian manusia menurut
pandangan antropologi, Al-Qur’an maupun iptek. Serta akan dipaparkan tujuan
penciptaan manusia di dunia.
Ø Apa
pengertian manusia menurut para ahli dan Al-Quran?
Ø Bagaimana
proses penciptaan manusia?
Ø Apa
tujuan penciptaan manusia?
Ø
Mengetahui hakikat
manusia menurut para ahli dan Al-Quran
Ø
Mengetahui bagaimana
proses penciptaan manusia
Ø
Mengetahui peran
dan tugas manusia di dunia
Manusia adalah makhluk lemah yang
diciptakan oleh Allah dengan dilengkapi akal pikiran serta hawa nafsu. Seiring berjalannya
waktu, kini banyak manusia yang tidak lagi menggunakan akal pikirannya untuk
bertindak. Mereka cenderung megutamakan hawa nafsu dalam setiap tindakannya
hingga menyebabkan kehancuran di muka bumi.
Plato.
Ia memandang manusia terdiri dari jiwa dan tubuh. Dua elemen manusia ini
memiliki esensi dan karakteristik yang berbeda. Jiwa adalah zat sejati yang
berasal dari dunia sejati, dunia idea. Jiwa tertanam dalam tubuh manusia.
sementara tubuh manusia adalah zat semu yang akan hilang lenyap bersamaan
dengan kematian manusia. Sedangkan ide tetap abadi. Sesuatu yang abadi
terperangkap didalam sesuatu yang fana, itulah nasib jiwa. Tubuh adalah penjara
bagi jiwa. Sebagai zat yang berasal dari dunia idea, jiwa selalu ingin kembali
ke dunia sejati itu. Manusia yang bagian sejatinya adalah jiwa yang
terperangkap dalam tubuh, selalu merasa tidak bebas selama tubuhnya mengungkung
jiwanya. Untuk membebaskan jiwa dari dunia fana dan kembali ke dunia idea,
manusia harus memenuhi dirinya dengan hal-hal yang menjadi sifat utama dari jiwa.
Sifat utama itu adalah rasionalitas, keutamaan moral dan kabajikan selama hidup
di dunia ini.
Aristoteles.
Berbeda dengan Plato, ia memandang manusia sebagai satu kesatuan. Tubuh dan jiwa adalah satu substansi. Perbedaan keduanya
bukan perbedaan esensial. Bagi Aristoteles jiwa manusia tidak terpenjara dalam
tubuh. Ketidakbebasan manusia bukan dalam kondisi terpenjaranya jiwa oleh badan
melainkan ketidakmampuan mereka
menggunakan keseluruhan sistem psiko-fisik dalam memahami alam semesta dan
ketidakmampuan mengembangkan dirinya dalam kehidupan sehari-hari, termasuk
kehidupan sosial. Tujuan hidup manusia adalah mencapai kebahagiaan, tetapi
bukan kebahagiaan yang hedonistik, bukan yang semata mementingkan kenikmatan
fisik. Kebahagiaan manusia adalah kebahagiaan yang dicapai dengan
tindakan-tindakan rasional .
Psikoanalisa.
Sigmund Freud adalah salah satu tokoh psikologi yang memandang manusia sebagai
makhluk deterministik, dengan kata lain ia melihat manusia tidak bebas.
Kepribadian manusia terdiri dari dua bagian yaitu kesadaran dan ketidaksadaran.
Bagian ketidaksadaran jauh lebih luas dari bagian kesadaran. Dan bagian
ketidaksadaran tersebut memiliki pengaruh besar pada diri manusia. banyak
perilaku manusia yang dipengaruhi oleh ketidaksadarannya. Menurut Freud
pada bagian ketidaksadaran ini diisi oleh dorongan-dorongan instingtif bersifat
primitif yang menggerakkan manusia untuk mendapatkan kenikmatan. Selain insting
primitif, dalam wilayah ketidaksadaran tersimpan pula berbagai kenangan
peristiwa traumatik dan hal-hal yang dilupakan oleh seseorang, yang tidak dapat
ditampilkan dikesadarannya karena dianggap tidak dapat diterima oleh
masyarakat. Jadi dalam pandangan Freud, manusia terutama digerakkan oleh
instingnya.
Psikologi
Behaviorisme. Dua tokoh behaviorisme yang terkenal adalah J.B. Watson
dan B.F. Skinner. Keduanya memandang manusia sebagai hasil pembiasaan
stimulus-respons. Lingkungan berperan penting dalam menentukan kepribadian
seseorang. Mengikuti pandangan kaum empiris seperti John locke, behaviorisme
memandang manusia lahir dalam kondisi seperti tabularasa atau kertas putih yang
masih belum ditulisi. Pengalaman berhadapan dan bersentuhan dengan lingkungan
menyebabkan kertas putih tertulisi. Manusia adalah makhluk pasif yang menerima
bentukan dari lingkungan.
Psikologi
Humanistik. Carls Rogers dan Abraham Maslow memandang manusia sebagai
makhluk yang bebas dengan kehendak untuk mengaktualisasi potensi-potensinya. Sejak
lahir manusia memiliki potensi-potensi yang dapat dikembangkannya sendiri.
Manusia tidak ditetapkan akan jadi apa nantinya. Ia bisa jadi apa saja karena
ia memiliki semua potensi untuk jadi apapun. Yang menentukan akan jadi apa dia
adalah dirinya sendiri dengan bantuan fasilitas dari lingkungan. Manusia pada
tingkat tertentu bertingkah laku bukan lagi karena dorongan-dorongan insting
atau kekurangan-kekurangan yang ada padanya, tetapi karena keinginannya untuk
mengaktualisasi potensi-potensinya. Ia mencintai karena memiliki potensi
mencintai, bekerja karena memiliki potensi bekerja dan sebagainya.
Pandangan
Erich Fromm. Ia melihat kondisi eksistensial manusia sebagai
makhluk dilematik. Manusia sebagai pribadi sekaligus bagian dari alam, sebagai
binatang dan sekaligus manusia. Dalam The Sane Society, Fromm
menyatakan bahwa secara biologis manusia tidak berbeda dengan binatang. Sebagai
binatang, ia memerlukan pemenuhan kebutuhan fisiologis seperti makan dan
minum. Sedangkan sebagai manusia ia memiliki kesadaran diri, pikiran dan daya
khayal (imajinasi). Ia juga mengalami pengalaman-pengalaman khas manusia
seperti perasaan lemah lembut, cinta, perhatian, rasa kasihan, tanggung jawab,
identitas diri, integritas, dan transendensi. Ia juga memiliki pengalaman keterikatan
dengan nilai dan norma. Manusia dan lingkungannya saling berinteraksi, saling
mempengaruhi. Manusia mampu melakukan perubahan lingkungan, sebaliknya juga
lingkungan dapat mengubah manusia. Manusia berkembang dengan mengaktualisasi
potensi-potensinya, tetapi seberapa jauh aktualisasi potensi dan perkembangan
manusia dapat dicapai, juga dipengaruhi seberapa fasilitatifnya lingkungan
tempat ia hidup
Islam
memiliki pandangan yang optimistik tentang manusia. Dalam ajaran Islam, manusia
yang lahir dalam keadaan fitri, suci dan bersih merupakan makhluk terpuji dan
dimuliakan meskipun pada kondisi-kondisi tertentu manusia dipandang sebagai
makhluk yang rendah. Dalam bukunya Perspektif Al-Quran tentang Manusia dan
Agama, Murtadha Muthahhari telah menunjukkan bagaimana Islam dan Al-Quran
memandang manusia.
1.
Manusia adalah khalifah Tuhan di
bumi.
“Ketika
Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan
seorang khalifah di bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan
khalifah di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan
darah…………” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu
ketahui.” (QS.2:30)
2.
Manusia mempunyai kecenderungan
dekat dengan Tuhan.
Dengan kata lain, manusia sadar akan kehadiran Tuhan jauh di dasar sanubari
mereka. Jadi segala keraguan dan keingkaran kepada Tuhan muncul ketika manusia
menyimpang dari fitrah mereka sendiri.
3.
Manusia dalam fitrahnya memiliki
sekumpulan unsur surgawi yang luhur, yang berbeda dengan unsur-unsur badani
yang ada pada binatang, tumbuhan dan benda-benda tak bernyawa. Unsur-unsur itu
merupakan suatu senyawa antara alam nyata
dan metafisis, antara rasa dan non-rasa (materi), antara jiwa dan raga.
4.
Penciptaan manusia benar-benar telah
diperhitungkan secara teliti, bukan suatu kebetulan. Karenanya manusia
merupakan suatu makhluk pilihan.
5.
Manusia bersifat bebas dan merdeka.
Mereka diberi kepercayaan penuh oleh
Tuhan, diberkahi dengan risalah yang diturunkan melalui para nabi, dan
dikaruniai rasa tanggung jawab. Mereka diperintahkan untuk mencari nafkah di
muka bumi dengan inisiatif dan jerih payah mereka sendiri, mereka pun bebas
memilih kesejahteraan atau kesengsaraan bagi dirinya.
“Sesungguhnya
telah Kami tawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, tetapi mereka
semua enggan memikulnya dan mereka khawatir akan mengkhianatinya. Manusialah
yang mau memikul amanat itu, sungguh ia sangat zalim dan bodoh.” (QS.33:72)
6. Manusia dikaruniai
pembawaan yang mulia dan martabat.
Tuhan,
pada kenyataannya telah menganugrahi manusia keunggulan-keunggulan atas
makhluk-makhluk lain. Manusia akan menghargai dirinya sendiri hanya jika mereka
mampu merasakan kemuliaan dan martabat tersebut, serta mau melepaskan diri
mereka dari kepicikan segala jenis kerendahan budi, penghambaan dan hawa nafsu.
“Sesungguhnya
Kami telah muliakan anak-anak Adam, Kami angkat mereka di darat dan di
lautan…., dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang telah Kami
ciptakan.” (QS.17:70)
7.
Manusia memiliki kesadaran moral.
Mereka dapat membedakan yang baik dari
yang jahat melalui inspirasi fitri yang ada pada mereka.
“Demi jiwa dan penyempurnaannya
(ciptaannya), maka Allah telah mengilhamkan ke dalam jiwa itu (jalan) kefasikan
dan ketaqwaannya.” (QS.91:7-8)
8.
Jiwa manusia tidak akan pernah
damai, kecuali dengan mengingat Allah. Keinginan mereka tidak terbatas, mereka
tidak pernah puas dengan apa yang telah mereka peroleh. Di lain pihak, mereka
lebih berhasrat untuk ditinggikan ke arah perhubungan dengan Tuhan Yang Maha
Abadi.
9.
Segala bentuk karunia duniawi
diciptakan untuk kepentingan manusia. Jadi manusia berhak memanfaatkan itu
semua dengan cara yang sah.
10.Tuhan menciptakan manusia agar mereka menyembah-Nya. Tunduk patuh kepada
Tuhan menjadi tanggung jawab manusia.
“Aku tidak menciptakan jin dan
manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS.51:56)
Ada
4 kata yang digunakan Al-Quran dalam menunjukan tentang manusia, yakni insan, An-Naas,
Basyar dan bani Adam. Manusia disebut al-insan karena dia sering menjadi pelupa
sehingga diperlukan teguran dan peringatan. Sedangkan kata An-Naas (terambil
dari kata an-naws yang berarti gerak dan ada juga yang berpendapat bahwa ia
berasal dari kata unaas yang berarti nampak) digunakan untuk menunjukkan
sekelompok manusia baik dalam arti jenis manusia atau sekelompok tertentu dari
manusia. An-Naas jika dilihat dari aspek sosial maksudnya adalah makhluk yang
tidak mampu hidup tanpa bantuan orang lain (zoon
politicon). Manusia disebut Al-Basyar, karena dia cenderung perasa dan
emosional sehingga perlu disabarkan dan didamaikan. Manusia disebut sebagai
bani Adam karena dia menunjukkan pada asal-usul yang bermula dari nabi Adam a.s.
sehingga dia bisa tahu dan sadar akan jati dirinya. Misalnya, dari mana dia
berasal, untuk apa dia hidup, dan ke mana ia akan kembali.
2.2
PROSES PENCIPTAAN MANUSIA
Menurut
A. Tafsir (2008: 34) manusia adalah makhluk ciptaan Allah, ia tidaklah muncul
dengan sendirinya atau berada oleh dirinya sendiri. Al-Qur’an surat Al-Alaq
ayat 2 menjelaskan bahwa manusia itu diciptakan Tuhan dari segumpal darah,
Al-Qur’an surat Al-Thariq ayat 5 menjelaskan bahwa manusia dijadikan oleh
Allah, Al-Qur’an surat Ar-Rahman ayat 3 menjelaskan bahwa Ar- Rahman (Allah)
itulah yang menciptakan manusia. Masih banyak sekali ayat Al- Qur’an yang
menjelaskan bahwa yang menjadikan manusia adalah Tuhan. Jadi, manusia adalah
makhluk ciptaan Tuhan. Senada dengan pendapat A. Tafsir diatas, Jalaluddin
(2002: 32) mengatakan bahwa seperti halnya alam semesta, maka dalam konsep
filsafat pendidikan Islam, manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan. Hakikat penciptaannya
adalah agar manusia menjadi pengabdi Penciptanya (ontology). Agar dapat
menempatkan dirinya sebagai pengabdi yang setia, maka manusia dianugerahkan
berbagai potensi baik potensi jasmani, rohani dan ruh (phylosophy of mind).
2.2.1
Proses Penciptaan Manusia dalam Pandangan Antropologi
Pada awalnya didunia
ini hanya ada satu sel yang kemudian ber- kembang dan mengalami
percabangan-percabangan. Percabangan ini me-ngakibatkan adanya variasi mahluk
hidup didunia. Menurut Charles Darwin (1809-1882) dengan teori evolusinya dalam
bukunya On The Origin of Species yang
terbit tahun 1859 M, manusia merupakan hasil evolusi dari kera yang mengalami
perubahan secara bertahap dalam waktu yang sangat lama. Dalam perjalanan waktu
yang sangat lama tersebut terjadi seleksi alam. Semua mahluk hidup yang ada
saat ini merupakan organisme-organisme yang berhasil lolos dari seleksi alam
dan berhasil mempertahankan dirinya. Dalam teorinya ia mengatakan, “Suatu
benda (bahan) mengalami perubahan dari yang tidak sempurna menuju kepada
kesempurnaan”. Kemudian ia memperluas teorinya hingga sampai kepada
asal-usul manusia.
Dapat disimpulkan bahwa manusia
dalam pandangan Antropologi terbentuk dari satu sel sederhana yang mengalami perubahan
secara bertahap dalam waktu yang sangat lama (evolusi). Berdasarkan teori ini,
manusia dan semua mahluk hidup di dunia ini berasal dari satu moyang yang sama.
Nenek moyang manusia adalah kera. Teori
Evolusi yang dikenalkan oleh Charles Darwin ini akhirnya meluas dan terus
dipakai dalam antropologi.
Namun teori tersebut mempunyai
kelemahan karena ada beberapa jenis tumbuhan dan hewan yang tidak mengalami
evolusi dan tetap dalam keadaan seperti semula. Misalnya sejenis biawak atau
komodo yang telah ada sejak berjuta-juta tahun yang lalu dan sampai saat ini
masih tetap ada. Jadi dapat kita katakan bahwa teori yang dianggap ilmiah itu
ternyata tidak mutlak karena antara teori dengan kenyataan tidak dapat
dibuktikan
Atas teori Darwin
tersebut P.P Grasse dalam bukunya L’homme
Accusatioon (manusia sebagai tertuduh) juga berusaha mencari bukti
kebenaran adanya evolusi. Secara kritis melalui penelitian yang teliti dan
pengumpulan pendapat dari para ahli tentang perbedaan antara monyet dengan kera,
perbedaan antara kera dengan siamang, perbedaan siamang dengan gorilla dan
perbedaan gorilla dengan manusia. Baik secara fisiologis, anatomis, maupun
biologis akhinya P.P Grasse menyimppulkan bahwa antara manusia dan kera adalah berbeda
dengan kata lain tidak terbukti.
2.2.2
Proses Penciptaan Manusia dalam Pandangan Islam
Al-Qur’an menyatakan proses
penciptaan manusia mempunyai dua tahapan yang berbeda, yaitu:
1.
Tahapan primordial
Manusia
pertama yang diciptakan Allah SWT adalah Nabi Adam a.s. yang diciptakan dari al-tin
(tanah), al-turob (tanah debu), min shal (tanah liat), min hamain masnun (tanah lumpur hitam
yang busuk) yang dibentuk Allah dengan seindah-indahnya, kemudian Allah meniupkan
ruh dari-Nya ke dalam diri (manusia) tersebut (Q.S. Al An’aam (6):2, Al Hijr
(15):26, 28, 29, Al Mu’minuun (23):12, Al Ruum (30):20, Ar Rahman (55):4).
2.
Tahapan biologi
Penciptaan
manusia selanjutnya yaitu melalui proses biologi yang dapat dipahami secara
sains-empirik. Didalam proses ini, manusia diciptakan dari inti sari tanah yang
dijadikan air mani (nuthfah) yang tersimpan dalam tempat yang kokoh (rahim).
Kemudian nuthfah tersebbut dijadikan darah beku (‘alaqah) yang
menggantung dalam rahim. Darah beku tersebut kemudian dijadikan segumpal daging
(mudghah) dan kemudian dibalut dengan tulang belulang lalu kepadanya
ditiupkan ruh (Q.S. Al Mu’minuun (23):12-14). Hadits yang diriwayatkan Bukhari
dan Muslim menyatakan bahwa ruh dihembuskan Allah SWT kedalam janin setelah ia mengalami
perkembangan 40 hari nuthfah, 40 hari ‘alaqah dan 40 hari mudghah.
Penciptaan manusia dan aspek-aspeknya tersebut ditegaskan dalam banyak
ayat. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Manusia tidak diciptakan dari
mani yang lengkap, tetapi dari sebagian kecilnya (spermazoa).
2. Sel kelamin laki-lakilah yang
menentukan jenis kelamin bayi.
3. Janin manusia melekat pada rahim
sang ibu bagaikan lintah.
4. Manusia berkembang ditiga kawasan
yang gelap didalam rahim seorang ibu.
Berikut
akan dijabarkan secara lebih rinci tentang penegasan-penegasan tersebut:
1.
Setetes Mani
Sebelum
proses pembuahan terjadi, 250 juta sperma terpancar dari si laki-laki pada satu
waktu dan menuju sel telur yang jumlahnya hanya satu setiap siklusnya.
Sperma-sperma melakukan perjalanan yang sulit ditubuh si ibu sampai menuju sel
telur karena saluran reproduksi wanita yang berbelok-belok, kadar keasaman yang
tidak sesuai dengan sperma, gerakan ‘menyapu’ dari dalam saluran reproduksi
wanita, dan juga gaya gravitasi yang berlawanan. Sel telur hanya akan mem-
bolehkan masuk satu sperma saja.
Artinya,
bahan manusia bukan mani seluruhnya, melainkan hanya sebagian kecil darinya.
Ini dijelaskan dalam Al-Qur’an:
“Apakah
manusia mengira akan dibiarkan tak terurus? Bukankah ia hanya setitik mani yang
dipancarkan?” (QS Al Qiyamah:36-37).
2.
Segumpal Darah Yang Melekat di Rahim
Setelah lewat 40 hari dari air mani
tersebut Allah menjadikannya segumpal darah yang disebut ‘alaqah. "Dia telah menciptakan manusia dengan
segumpal darah" (Q.S. Al ‘Alaq(96):2).
Ketika sperma dari laki-laki
bergabung dengan sel telur wanita, terbentuk sebuah sel tunggal yang dikenal
sebagai “zigot”, zigot tersebut akan segera berkembang biak dengan membelah
diri hingga akhirnya menjadi “segumpal daging”. Tentu saja hal ini hanya dapat
dilihat oleh manusia dengan bantuan mikroskop.
Tapi, zigot tersebut tidak
melewatkan tahap pertumbuhannya begitu saja. Ia melekat pada dinding rahim
seperti akar yang kokoh menancap di bumi dengan carangnya. Melalui hubungan
semacam ini, zigot mampu mendapatkan zat-zat penting dari tubuh sang ibu bagi
pertumbuhannya. Pada bagian ini, satu keajaiban penting dari Al Qur’an
terungkap. Saat merujuk pada zigot yang sedang tumbuh dalam rahim ibu, Allah
menggunakan kata “alaq” dalam Al Qur’an. Arti kata “alaq” dalam bahasa Arab
adalah “sesuatu yang menempel pada suatu tempat”. Kata ini secara harfiah
digunakan untuk menggambarkan lintah yang menempel pada tubuh untuk menghisap
darah.
3.
Pembungkusan
Tulang oleh Otot
Disebutkan
dalam ayat-ayat Al Qur’an bahwa dalam rahim ibu, mulanya tulang-tulang
terbentuk, dan selanjutnya terbentuklah otot yang membungkus tulang-tulang
tersebut. “Kemudian air mani itu Kami
jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging,
dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang belulang itu
Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk)
lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik” (Q.S. Al Mu’minun(23):14).
Para ahli embriologi beranggapan
bahwa tulang dan otot dalam embrio terbentuk secara bersamaan. Karenanya, sejak
lama banyak orang yang menyatakan bahwa ayat ini bertentangan dengan ilmu
pengetahuan. Namun, penelitian canggih dengan mikroskop yang dilakukan dengan
menggunakan perkembangan teknologi baru telah mengungkap bahwa pernyataan
Al-Qur’an adalah benar adanya.
Penelitian ditingkat mikroskopis menunjukkan
bahwa perkembangan dalam rahim ibu terjadi dengan carayang sama seperti apa yang
digambarkan dalam ayat tersebut. Pertama, jaringan tulang rawan embrio mulai
mengeras. Kemudian sel-sel otot yang terpilih dari jaringan disekitar
tulang-tulang bergabung dan membungkus tulang-tulang ini.
4.
Saripati
Tanah dalam Campuran Air Mani
Cairan yang disebut mani tidak hanya
mengandung sperma. Ketika mani disinggung di Al-Qur’an, fakta yang ditemukan
ilmu pengetahuan modern juga menunjukkan bahwa mani adalah cairan campuran, “Dialah Yang menciptakan segalanya dengan
sebaik-baiknya, Dia mulai menciptakan manusia dari tanah liat. Kemudian Ia
menjadikan keturunannya dari sari air yang hina (air mani).” (Q.S. As-Sajdah(32):7-8).
Kemudian
setelah proses tersebut selesai dan Allah telah menyempurnakan ciptaan-Nya
kemudian ditiupkan ruh kedalamnya dan dijadikannya pendengaran, pemglihatan dan
perasaan. “Kemudian Dia menyempurnakannya
dan meniupkan ruh (ciptaan)-Nya kedalam (tubuh)nya dan Dia menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati
bagimu, (tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur” (Q.S. As-Sajdah(32):9).
Dari penjelasan-penjelasan diatas,
jelas menegaskan bahwa manusia tersusun dari dua unsur yaitu materi dan
immateri, jasmani dan rohani. Unsur materi (tubuh) berasal dari tanah dan roh
manusia berasal dari substansi immateri. Tubuh mempunyai daya-daya fisik
jasmani, yaitu mendengar, melihat, merasa, meraba, mencium dan daya gerak.roh
mempunyai dua daya, yakni daya akal yang berpusat dikepala dan dayarasa yang
berpusat pada hati. [Rohima Notowidagdo 1996:17]
Unsur-unsur
immateri lain yang ada pada manusia terdiri dari roh, qalbu, aqal dan nafsu.
[Mustafa Zahri, 1976:121] Berikut uraiannya:
1.
Ruh
Dalam
Al-Quran istilah ruh sering disebutkan namun memiliki arti yang berbeda. Adakalanya rruh diartikan sebagai
pemberian hidup dari Allah kepada manusia (Q.S. Al-Hijr (15):29, Q.S.
As-Sajadah (32):9). Adakalanya pula dimaksudkan sebagai penciptaan kepada Nabi
Isa a.s. (Q.S. Maryam (19):17, Al-Anbiya (21): 91). Ruh juga menunjukan istilah
Al-Quran (Q.S. Asy-Syuura (42):52). Ruh juga menunjukan wahyu dan malaikat
jibril yang membawanya (Q.S. An-Nahl (16):2).
Setinggi
apapun ilmu seseorang tidak akan mampu menemukan hakikat ruh, karena ruh merupakan
bagian dari rahasia Illahi dan manusia tidak mempunyai kemampuan penuh untuk
memahaminya.
Ruh ini
mendapat perintah dan larangan dari Allah. Bertanggung jawab atas segala
gerak-geriknyadan memegang komando ats segala kehidupan manusia. Ruh bukan jism
(jasad) dan bukan pula arodl (tubuh). Keberadaanny tidak melekat
pada sesuatu. Ia adalah jouhar (substansi) yaitu sesuatu yang berwujud
dan berdiri sendiri. Roh bagian ini memiliki kesadaran diri dan telah ada sejak
awal, karena telah diadakan oleh Allah. Hakikat ruh tidak dapat dikethuioleh
manusia serta tidak dapat diukur dan dianalisis. Roh tetap hidup walau tubuh
sudah hancur. (Qamarul Hadi, 1981: 135)
Ibnu Qayyim menyatakan, ruh adalah jism
yang berlainan hakikatnya dari jism yang dapat diraba. Ruh merupakan
jism nurani yang ringan dan
tinggi, hidup dan selalu bergerak, yang
menembusi anggota dan menjalar kedalam anggota tubuh. Jism ini
berjalin dan memberi bekas-bekas seperti gerak, masa dan berkehendak. Jika
naggota-anggota tersebut sakit dan rusak serta tidak menerima bekas-bekas
tersebut, ruh akan bercerai dan kembali ke alam arwah. Ruh yang mati dan hilang
disebut nafs. (Qamarul Hadi, 1981: 135)
2. Hati (qalb)
Qalb atau hati
merupakan rahasia manusia yang merupakan anugerah Allah. Dengan qalb ini,
manusia mampu beraktivitas sesuai dengan hal-hal yang dititahkanoleh Allah.
Qalb berperan sebagai sentral kebaikan dan kejahatan manusia, walaupun pada
hakikatnya cenderung pada kebaikan. Sentral aktivitas manusia bukan ditentukan
oleh badan yang sehat sebagaimana yang dipahami oleh kebanyakann para ahli
biologis. Nabi Muhammad SAW bersabda yang diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim: “Sesungguhnya
didalam jasad manusia ada terdapat segumpal daging, apabila baik maka baiklah
semua anggota tubuh dan jika rusak maka rusaklah semua anggota tubuh,
ketahuilah ia itu adalah qalbu.” (Bukhari, Shahih Bukhari, 1994:49)
Menurut Al-Gazali,, qalb memiliki
dua arti yaitu arti fisik dan metafisik. Arti fisik yaitu jantung, berupa
segumpal daging yang berbentuk bulat memanjang yang terletak dipinggir dada
sebelah kiri. Qalb bertugas mengetur
peredaran darah pada seluruh tubuh, yang didalamnya terdapat rongga-rongga yang mengandung darah hitam, sebagai sumber
ruh. Qalb dalam arti jantung tidak hanya dimiliki oleh manusia, tapi juga
hewan. Bahkan dimiliki oleh orang yang sudah mati. Qalb disini memiliki arti
jasmaniah yang dapat ditangkap oleh indera
manusia. (Amin Noersyam, tt:8)
Sedangkan arti metafisik yaitu batin
sebagai tempat pikiran yang sangat rahasia dan murni, yang meeupakan hal yang lathif
(halus) yang dimarahi serta dihukum.
Qalb akan menjadi bahagia manakal berada disisi Allah dan berusaha melepaskan
belenggu selain Allah. Sebaliknya, apabila menyalahkangunakan kepatuhan dan
ketaatan kepada Allah, qalb ini akan menjadi celaka. Dengan qalb manusia dapat
menangkap rasa, mengetahui dan mengenal sesuatu dan pada akhirnya memperoleh
ilmu mukasyafah (ilmu yang diperoleh melalui ilham Allah). (Dawan
Raharjo, 1987:7)
Qalb dapat
dikategorikan sebagai intuisi atau pandangan yang dalam, yang memiliki
asa keindahan membawa manusia kealam kebenaran ketika peng-inderaan tidak
memainkan perannya.
Qalb dapat
mengetahui hakikat dari segala sesuatu yang ada. Jika Tuhan telah melimpahkan
cahaya-Nya pada qalb, manusia dapat mengetahui segala sesuatu yang gaib.
Dengan qalb manusia juga dapat mengenal sifat-sifat Allah. 9Mustafa
Zahri 1976:121) yang nantinya ditransfer dan diinternalisasikanpada kekidupan
manusia sehari-hari.
3.
Potensi
Manusia (Akal)
Manusia
memiliki sesuatu yang tidak ternilai harganya, anugerah yang sangat besar dari
Allah yaitu Akal. Sekiranya manusia tidak diberi akal, niscaya perbuatan dan
keadannya akan sama dengan hewan. Akal digunakan untuk berpikir dan
memperhatikan baran yang ada didunia ini sehingga barang-barang yang halus dan
tersembunyi dapat dipikirkan kegunaan dan manfaatnya.
Sebagai
makhluk yang berakal manusia dapat mengamati sesuatu. Hasil pengematan tersebut
dapat diolah sehingga menjadi ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan tesebut
dapat dirumuskan ilmu baru yang akan digunakan
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan menjangkau jauh keluar kemampuan
fisiknya. Dengan ilmu pengetauan tersebut manusia mampu menguasai alam ini.
Walaupun
akal memiliki keterbatasan-keterbatasan , namun manusia dituntut untuk
menggunakan akal dengan sebaik-baiknya karena merupakan anugerah dari Allah
SWT.
4.
Nafsu
Nafsu dalam
istilah psikologi lebih dikenal dengan sebutan konasi atau daya karsa, konasi
dalam bentuk bereaksi, berbuat, berusaha, berkemauan atau berkhendak. Aspek
konasi ini ditandai dengan tingkah laku yang bertujuan dan dorongan untuk
bergerak.
Nafsu dibagi
dua kelompok yaitu gadhab dan syahwat.
a. Gadhab, mempunyai dua macam:
1.
Lawwamah, memiliki kecenderungan
loba dan tamak, serakah dan suka makan banyak dan enak, sedangkan pengaruh yang
ditimbulkan adalah kikir, tidak jujur, malas, dan mengejar kenikmatan.
2. Ammarah,
nafsu ini digolongkan dengan dua macam, yaitu:
1.
Pada manusia, nafsu ini memiliki
kecenderungan untuk berkelahi, meniru, membantu, berteman. Pengaruh yang
ditimbulkan adalah berani, kejam, persatuan dan gotong royong.
2.
Pada seseorang, nafsu ini memiliki
kecenderungan murka, keras kepala, suka mencela, suka melawan dan suka
berkelahi.
b. Syahwat, terdiri dari supiah dan
muthmainnah
1. Supiah, memiliki kecenderungan insting ibu bapak,
kesukaan diri ingin tahu suka campur tangan, rendah diri dan berketuhanan.
Pengaruh yang ditimbulkan adalah memberi makan anak, sombong, gemar
menyelidiki, mengomel, hidup mewah, ingin kuasa, penghambaan dan tawakal.
2. Muthmainnah, memiliki
kecenderungan berkemanusiaan, kebijakan,
kesusilaan, kecintaan, keadilan, dan keindahan.
Pada
prinsipnya nafsu selalu cenderung kearah yang negatif, kecuali nafsu tersebut
dapat dikendalikan dengan dorongan yang lain, seperti dorongan intelek (akal),
hati nurani (qalb) yang selalu mengacu paa petunjuk-Nya. Karena tanpa kendali
akal dan hati, nafsu akan menjadi kendali kehidupan manusia.
Segala sesuatu yang
Allah ciptakan, baik dilangit maupun dibumi pasti ada tujuan dan hikmahnya.
Tidaklah semata mata karena hanya suka-suka saja. Bahkan seekor nyamuk pun
tidaklah diciptakan sia-sia. Allah SWT berfirman:
أَفَحَسِبْتُمْ
أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثاً وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ
“Maka apakah kamu mengira,
bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa
kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Q.S. Al Mukminun:115).
1. Beribadah kepada Allah SWT semata
Manusia sebagai a’bid artinya hamba Allah, memiliki
tugas untuk mengabdi atau beribadah kepada-Nya. Sebagaimana firman-Nya dalam Q.S.Adz –Dzaariyat (51): 56
“Wamaa
khalaqtul jinna wal insa illa liya’ buduun.”
Artinya:
“Dan Aku tidak menciptakan jindan manusia melainkan supaya mereka
menyembah-Ku.”
Dan
firman Allah (Q.S.Al – Bayyinh: 5)
“wamaa
umiruu illa liya’budullaha mukhlisiina lahuddin ”
Artinya:
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menembah Allah dengan memurnikan
ketaatan kepada-Nya ”
Semua
kehidupan manusia bertumpu untuk mencerminkan kepercayaan “Tauhid” dalam hidup
dan kehidupan manusia, dalam wujud dan bentuk hidup dan kehidupan yang semata-mata
untuk beribadah kepada Allah SWT. Dalam arti yang luas dan penuh, seperti makna
pengertian ibadah dalam islam, “ibadah adalah Taqarrub (mendekatkan diri) kepada
Allah dengan mentaati segala perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan mengamalkan
yang di izinkan-Nya.
Ibadah dibagi kedalam dua bagian, yaitu:
a. Ibadah khusus (muakhadah) adalah apa yang telah ditetapkan
Allah perinciannya, tingkah dan tatacaranya tertentu. Contoh: shalat,
zakat, puasa, haji.
b. Ibadah umum (ghairo muakhadah) adalah segala amalan yamg
diizinkan oleh Allah SWT termasuk segala aktivitas manusia yang mengandung
unsur ibadah, bila diniatkan dengan ikhlas karena Allah SWT. Hal ini tercermin
dalam hidup kita, pada saat hendak melaksanakan shalat.”Sesungguhnya
shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam.
Tiada sekutu bagi-Nya dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku
adalah orang yang pertama kali menyerahkan diri(kepada Allah”. (Q.S. Al
An’aam: 162-163).
2.
Sebagai pemimpin (khalifah) di muka bumi
Dengan kesempurnaan yang
diberikan, Allah SWT menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Pengertian
khalifah disini adalah penguasa atau pengganti Allah yang mengatur segala sesuatu
yang terkandung dibumi agar bisa dimanfaatkan untuk kepentingan umat
manusia.
Dalam Q.S. Al-Baqarah: 30 Allah SWT
berfirman:
“Dan
ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan
khalifah di muka bumi.” Mereka berkata, ”Mengapa Engkau hendak menjadikan
khalifah di muka bumi itu orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan
darah padanya, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji dan mensucikan
Engkau?” Rabb berfirman, “Sesungguhnya aku lebih mengetahui yang tidak kamu
ketahui.”
Dengan demukian Allah telah memilih
manusia untuk dijadikan khalifah di muka bumi. Walaupun manusia itu dikenal
sebagai perusak yang akan selalu menumpahkan darah di muka bumi dibandingkan
dengan malaikat yang selalu memuji, bertasbih kepada Allah Sang Pencipta. Semua
ini hanya Allah-lah yang tahu, kehendak Allah tak terbatas yang meliputi
langit, bumi dan seluruh alam semesta. Selain itu Allah hanya meridhoi bahwa
kehalifahan itu dipegang oleh hamba-Nya yang shalih, yang dapat mengemban
tugasnya dengan baik.
Manusia
sebagai khalifah di muka bumi, memunyai peranan penting yang dijalankan samapai
akhir zaman ataupun kiamat, dan peranan penting ini pun sebagai bagian dari
fungsi manusia sebagai khalifah, diantaranya :
1.
Memakmurkan Bumi (al'imarah)
Berupa pembangunan materi, dengan
memanfaatkan kekayaan alam yang telah disediakan Allah di muka bumi tercinta
ini dengan arahan dan syariat yang lurus, yaitu berdasarkan Al-Quran (hikmah)
dan As-Sunah (hadist). Khalifah-pun berupaya untuk menjadikan umatnya atau
manusia pada zamannya yang bermoral dan memiliki peradaban yang baik.
2.
Memelihara Bumi (arri'ayah)
Khalifah dalam menjalankan tugasnya
harus memilki tujuan yaitu dengan menciptakan akidah dan akhlakul karimah.
Selain menciptakan juga agar selalu
terpeliharanya akidah dan akhlakulkarimah tersebut. Menjaga bumi dari kerusakan
atau kehancuran alam, baik itu yang disebabkan alam sendiri maupun oleh
tangan-tangan jahil para manusia.
3.
Perlindungan
Khalifah memiliki fungsi untuk
melindungi bumi dan seisinya, yang terkandung atas lima pokok kehidupan yaitu:
agama (aqidah), jiwa manusia, harta kekayaan, akal pikiran dan keturunan
(kehormatan). Tugas yang ketiga ini sangat berat diembannya dan apabila dapat
dilaksanakan, jika seorang khalifah tersebut dapat menunjukkan suatu kebenaran
sebagai kebenaran dan dapat menegakkan di tengah-tengah kehidupan umat manusia
serta dapat menunjukkan kepada umat manusia bahwa kebatilan adalah kebatilan
dan dapat mengajak seluruh umat manusia untuk menumbangkannya bersama demi
mencapai tujuan bersama yang diharapkan.
Menurut para ahli manusia adalah
makhluk yang terdiri dari jiwa dan tubuh. Dimana jiwa berada terperangkap
didalam tubuh. Sebagai makhluk sosial, manusia adalah makhluk yang tidak mampu
hidup sendiri tanpa bantuan orang lain (zoon politicon). Dan tujuan
hidup manusia adalah untuk mendapatkan kebahagiaan. Sedangkan islam memandang
manusia sebagai makhluk yang lahir dalam keadaan fitri, suci dan bersih adalah
makhluk yang terpuji dan dimuliakan meskipun pada kondisi-kondisi tertentu
manusia dipandang sebagai makhluk yang rendah. Dan makhluk yang paling sempurna
adalah manusia.
Manusia adalah makhluk yang diciptakan
oleh Alloh. Dan bagaimana proses penciptaan manusia membuat salah satu ilmuan
penasaran dan melakukan penelitian hingga menghasilkan teori evolusi dimana dia
(Darwin) mengatakan bahwa manusia adalah keturunan kera. Namun Al-Quran secara
tegas menentang teori tersebut dan Allah mengatakan dalam firmann-Nya
bahwasannya manusia yang diciptakan pertama oleh-Nya adalah Nabi Adam a.s dari
tanah dan kemudian manusia sekarang atau keturunan-keturunan Nabi Adam
diciptakan dari sari pati tanah dalam bentuk air mani. Kebenaran yang dibawa
oleh Al-quran sudah dibuktikan secara ilmiah dan diakui kebenarannya secara
empirik.
Allah tidak menciptakan sesuatu tanpa
memiliki tujuan, sama halnya dengan penciptaan manusia. Tujuan Allah menciptakan
manusia adalah untuk menyembah kepada-Nya. Selain itu, sebagai makhluk paling
sempurna yang dilengkapi dengan akal, manusia juga diciptakan untuk menjadi
khalifah di muka bumi.
3.2 SARAN
Setelah mengetahui hakikat dari
manusia dan bagaimana manusia diciptakan serta tujuan penciptaan manusia oleh
Allah SWT hendaknya setiap manusia bisa sadar akan tujuan
hidupnya yaitu untuk mencari keridhaan Allah SWT, karena jiwa yang memperoleh
keridhaan Allah adalah jiwa yang berbahagia, mendapat ketenangan, serta akan
memperoleh imbalan surga. Sebagaimana firman Allah SWT yang artinya, “Hai
jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi
diridhainya. Maka masuklah dalam jamaah hamba-hambaku. Dan masuklah ke dalam
surgaku.” (QS Al Fajr: 27-30)
Selama hidup didunia manusia wajib
beribadah kepada-Nya dengan melaksanakan apa yang diperintahkan dan menjauhi
apa yang dilarang. Sebagai khalifah hendaknya manusia mampu menjalankan
amanatnya. Dengan melakukan segala sesuatunya didasarkan pada akal dan hati
tidak dibutakan oleh nafsu semata hingga mengakibatkan kehancuran di muka bumi.
Zaim
Elmubarok, dkk (2015) Islam Rahmatan Lil’alamin, Semarang: UPT UNNES Press.
Imam
Nasruddin (Pendidik di MAN Sakatiga Kabupaten Ogan Ilir Provinsi Sumatera
Selatan), Hakikat Manusia (Suatu Kajian menurut Filsafat Pendidikan Islam).
Muhammad Jawodiy, Konsepsi Tentang Manusia Dari Berbagai
Pandangan.
Dwi
Andriianty, Konsep Islam Tentang Proses Penciptaan Manusia (Dipost: 06 Mei
2013)
Hakikat
Manusia Menurut Al-Qur’an (http://nuansaislam.com)