Rabu, 14 Oktober 2015

Hakikat Manusia

Makalah PAI Bab 2 "Manusia"
Harap sertakan source jika ingin copast, thanks :)



DAFTAR ISI


 




Assalamualaikum Wr. Wb
            Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan seluruh alam yang telah memberikan kesehatan, kesempatan, dan kelancaran kepada saya sehingga mampu menyelesaikan tugas “Makalah Pendidikan Agama Islam Bab 2: Manusia” dengan lancar dan tanpa halangan apapun. Sholawat serta salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita, nabi yang membawa kita dari zaman kegelapan menuju zaman yang terang benderang nabi Muhammad SAW yang kita nantikan syafa’atnya di yumul kiyamah nanti.
            Terimakasih saya ucapkan kepada kedua orang tua saya yang selalu memberikan kasih sayang dan doa tanpa henti. Tidak lupa terimakasih saya ucapkan kepada Bp. Drs. Heri Tjahjono, M.Si. selaku dosen mata kuliah PAI rombel 88 yang telah membimbing serta memberikan ilmu-ilmu yang bermanfaat kepada saya. Terimakasih pula saya ucapkan kepada pihak-pihak yang telah membantu terselesaikannya makalah ini tanpa bisa saya sebutkan satu per satu.
            Selain pembuatan makalah ini ditujukan sebagai pemenuhan kewajiban tugas makul PAI, harapannya makalah ini juga dapat bermanfaat dengan menambah pengetahuan bagi para pembacanya. Dan semoga setelah membaca makalah ini para pembaca bisa menjadi insan yang lebih baik.
            Saya sadari makalah ini jauh dari kesempurnaan, karena meskipun manusia adalah makhluk paling sempurna yang diciptakan oleh Allah SWT tapi sesungguhnya tidak ada manusia yang tidak memiliki kekurangan.
            Akhir kata, saya kembali mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah berkenan membantu terselesaikannya makalah ini. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha yang telah dilakukan.
Wassalamualaikum Wr. Wb
Semarang, 13 Oktober 2015

Neni Uciati
 




              Manusia adalah  makhluk lemah paling sempurna  yang diciptakan oleh Allah. Manusia diberi akal untuk berpikir supaya berbeda dengan binatang. Manusia diberi nafsu untuk membedakannya dengan malaikat. Mengenai proses kejadian manusia, dalam Al-Qur’an (Q.S. Al-Hijr (15): 28-29) diterangkan bahwa manusia diciptakan dari tanah dengan bentuk yang sebaik-baiknya kemudian ditiupkan ruh kepadanya hingga menjadi hidup.
Ahli ilmu pengetahuan yang bernama Darwin mengemukakan adanya teori evolusi yang mengatakan bahwa manusia berasal dari makhluk yang mempunyai bentuk maupun kemampuan yang sederhana kemudian mengalami evolusi dan kemudian menjadi manusia seperti sekarang ini. Dia mengemukakan bahwa manusia adalah keturunan dari kera. Disisi lain banyak ilmuan dan ahli agama yang menentang adanya proses evolusi manusia tersebut. Karena mereka meyakini bahwa manusia yang  pertama adalah Nabi Adam a.s. disusul istrinya Siti Hawa dan kemudian keturunan-keturunannya hingga sekarang ini. Hal ini didasarkan pada informasi-informasi yang terdapat pada kitab suci Al-Quran yang mengatakan bahwa Adam adalah manusia pertama. Untuk itu dalam makalah ini akan dijelaskan tentang apa itu manusia, bagaimana proses kejadian manusia menurut pandangan antropologi, Al-Qur’an maupun iptek. Serta akan dipaparkan tujuan penciptaan manusia di dunia.

Ø  Apa pengertian manusia menurut para ahli dan Al-Quran?
Ø  Bagaimana proses penciptaan manusia?
Ø  Apa tujuan penciptaan manusia?

Ø  Mengetahui hakikat manusia menurut para ahli dan Al-Quran
Ø  Mengetahui bagaimana proses penciptaan manusia
Ø  Mengetahui peran dan tugas manusia di dunia





BAB II

          Manusia adalah makhluk lemah yang diciptakan oleh Allah dengan dilengkapi akal pikiran serta hawa nafsu. Seiring berjalannya waktu, kini banyak manusia yang tidak lagi menggunakan akal pikirannya untuk bertindak. Mereka cenderung megutamakan hawa nafsu dalam setiap tindakannya hingga menyebabkan kehancuran di muka bumi.
              Plato. Ia memandang manusia terdiri dari jiwa dan tubuh. Dua elemen manusia ini memiliki esensi dan karakteristik yang berbeda. Jiwa adalah zat sejati yang berasal dari dunia sejati, dunia idea. Jiwa tertanam dalam tubuh manusia. sementara tubuh manusia adalah zat semu yang akan hilang lenyap bersamaan dengan kematian manusia. Sedangkan ide tetap abadi. Sesuatu yang abadi terperangkap didalam sesuatu yang fana, itulah nasib jiwa. Tubuh adalah penjara bagi jiwa. Sebagai zat yang berasal dari dunia idea, jiwa selalu ingin kembali ke dunia sejati itu. Manusia yang bagian sejatinya adalah jiwa yang terperangkap dalam tubuh, selalu merasa tidak bebas selama tubuhnya mengungkung jiwanya. Untuk membebaskan jiwa dari dunia fana dan kembali ke dunia idea, manusia harus memenuhi dirinya dengan  hal-hal yang menjadi sifat utama dari jiwa. Sifat utama itu adalah rasionalitas, keutamaan moral dan kabajikan selama hidup di dunia ini.
              Aristoteles. Berbeda dengan Plato, ia memandang manusia sebagai satu  kesatuan. Tubuh dan  jiwa adalah satu substansi. Perbedaan keduanya bukan perbedaan esensial. Bagi Aristoteles jiwa manusia tidak terpenjara dalam tubuh. Ketidakbebasan manusia bukan dalam kondisi terpenjaranya jiwa oleh badan melainkan ketidakmampuan  mereka menggunakan keseluruhan sistem psiko-fisik dalam memahami alam semesta dan ketidakmampuan mengembangkan dirinya dalam kehidupan sehari-hari, termasuk kehidupan sosial. Tujuan hidup manusia adalah mencapai kebahagiaan, tetapi bukan kebahagiaan yang hedonistik, bukan yang semata mementingkan kenikmatan fisik. Kebahagiaan manusia adalah kebahagiaan yang dicapai dengan tindakan-tindakan  rasional .
              Psikoanalisa. Sigmund Freud adalah salah satu tokoh psikologi yang memandang manusia sebagai makhluk deterministik, dengan kata lain ia melihat manusia tidak bebas. Kepribadian manusia terdiri dari dua bagian yaitu kesadaran dan ketidaksadaran. Bagian ketidaksadaran jauh lebih luas dari bagian kesadaran. Dan bagian ketidaksadaran tersebut memiliki pengaruh besar pada diri manusia. banyak perilaku manusia  yang dipengaruhi oleh ketidaksadarannya. Menurut Freud pada bagian ketidaksadaran ini diisi oleh dorongan-dorongan instingtif bersifat primitif yang menggerakkan manusia untuk mendapatkan kenikmatan. Selain insting primitif, dalam wilayah ketidaksadaran tersimpan pula berbagai kenangan peristiwa traumatik dan hal-hal yang dilupakan oleh seseorang, yang tidak dapat ditampilkan dikesadarannya karena dianggap tidak dapat diterima oleh masyarakat. Jadi dalam pandangan Freud, manusia terutama digerakkan oleh instingnya.
              Psikologi Behaviorisme. Dua tokoh behaviorisme yang terkenal adalah J.B. Watson dan B.F. Skinner. Keduanya memandang manusia sebagai hasil pembiasaan stimulus-respons. Lingkungan berperan penting dalam menentukan kepribadian seseorang. Mengikuti pandangan kaum empiris seperti John locke, behaviorisme memandang manusia lahir dalam kondisi seperti tabularasa atau kertas putih yang masih belum ditulisi. Pengalaman berhadapan dan bersentuhan dengan lingkungan menyebabkan kertas putih tertulisi. Manusia adalah makhluk pasif yang menerima bentukan dari lingkungan.
              Psikologi Humanistik. Carls Rogers dan Abraham Maslow memandang manusia sebagai makhluk yang bebas dengan kehendak untuk mengaktualisasi potensi-potensinya. Sejak lahir manusia memiliki potensi-potensi yang dapat dikembangkannya sendiri. Manusia tidak ditetapkan akan jadi apa nantinya. Ia bisa jadi apa saja karena ia memiliki semua potensi untuk jadi apapun. Yang menentukan akan jadi apa dia adalah dirinya sendiri dengan bantuan fasilitas dari lingkungan. Manusia pada tingkat tertentu bertingkah laku bukan lagi karena dorongan-dorongan insting atau kekurangan-kekurangan yang ada padanya, tetapi karena keinginannya untuk mengaktualisasi potensi-potensinya. Ia mencintai karena memiliki potensi mencintai, bekerja karena memiliki potensi bekerja dan sebagainya.
              Pandangan Erich Fromm. Ia  melihat kondisi eksistensial manusia sebagai makhluk dilematik. Manusia sebagai pribadi sekaligus bagian dari alam, sebagai binatang dan sekaligus manusia. Dalam The Sane Society, Fromm menyatakan bahwa secara biologis manusia tidak berbeda dengan binatang. Sebagai binatang, ia memerlukan pemenuhan kebutuhan  fisiologis seperti makan dan minum. Sedangkan sebagai manusia ia memiliki kesadaran diri, pikiran dan daya khayal (imajinasi). Ia juga mengalami pengalaman-pengalaman khas manusia seperti perasaan lemah lembut, cinta, perhatian, rasa kasihan, tanggung jawab, identitas diri, integritas, dan transendensi. Ia juga memiliki pengalaman keterikatan dengan nilai dan norma. Manusia dan lingkungannya saling berinteraksi, saling mempengaruhi. Manusia mampu melakukan perubahan lingkungan, sebaliknya juga lingkungan dapat mengubah manusia. Manusia berkembang dengan mengaktualisasi potensi-potensinya, tetapi seberapa jauh aktualisasi potensi dan perkembangan manusia dapat dicapai, juga dipengaruhi seberapa fasilitatifnya lingkungan tempat ia hidup

          Islam memiliki pandangan yang optimistik tentang manusia. Dalam ajaran Islam, manusia yang lahir dalam keadaan fitri, suci dan bersih merupakan makhluk terpuji dan dimuliakan meskipun pada kondisi-kondisi tertentu manusia dipandang sebagai makhluk yang rendah. Dalam bukunya Perspektif Al-Quran tentang Manusia dan Agama, Murtadha Muthahhari telah menunjukkan bagaimana Islam dan Al-Quran memandang manusia.
1.    Manusia adalah khalifah Tuhan di bumi.
     “Ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah…………” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS.2:30)
2.    Manusia mempunyai kecenderungan dekat dengan Tuhan.
Dengan kata lain, manusia sadar akan kehadiran Tuhan jauh di dasar sanubari mereka. Jadi segala keraguan dan keingkaran kepada Tuhan muncul ketika manusia menyimpang dari fitrah mereka sendiri.
3.    Manusia dalam fitrahnya memiliki sekumpulan unsur surgawi yang luhur, yang berbeda dengan unsur-unsur badani yang ada pada binatang, tumbuhan dan benda-benda tak bernyawa. Unsur-unsur itu merupakan suatu senyawa antara alam  nyata dan metafisis, antara rasa dan non-rasa (materi), antara jiwa dan raga.
4.    Penciptaan manusia benar-benar telah diperhitungkan secara teliti, bukan suatu kebetulan. Karenanya manusia merupakan suatu makhluk pilihan.
5.    Manusia bersifat bebas dan merdeka.
       Mereka diberi kepercayaan penuh oleh Tuhan, diberkahi dengan risalah yang diturunkan melalui para nabi, dan dikaruniai rasa tanggung jawab. Mereka diperintahkan untuk mencari nafkah di muka bumi dengan inisiatif dan jerih payah mereka sendiri, mereka pun bebas memilih kesejahteraan atau kesengsaraan bagi dirinya.
“Sesungguhnya telah Kami tawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, tetapi mereka semua enggan memikulnya dan mereka khawatir akan mengkhianatinya. Manusialah yang mau memikul amanat itu, sungguh ia sangat zalim dan bodoh.” (QS.33:72)
6.    Manusia dikaruniai pembawaan yang mulia dan martabat.
       Tuhan, pada kenyataannya telah menganugrahi manusia keunggulan-keunggulan atas makhluk-makhluk lain. Manusia akan menghargai dirinya sendiri hanya jika mereka mampu merasakan kemuliaan dan martabat tersebut, serta mau melepaskan diri mereka dari kepicikan segala jenis kerendahan budi, penghambaan dan hawa nafsu.
       “Sesungguhnya Kami telah muliakan anak-anak Adam, Kami angkat mereka di darat dan di lautan…., dan Kami lebihkan mereka  dengan kelebihan yang telah Kami ciptakan.” (QS.17:70)
7.    Manusia memiliki kesadaran moral.
       Mereka dapat membedakan yang baik dari yang jahat melalui inspirasi fitri yang ada pada mereka.
       “Demi jiwa dan penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah telah mengilhamkan ke dalam jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya.” (QS.91:7-8)
8.    Jiwa manusia tidak akan pernah damai, kecuali dengan mengingat Allah. Keinginan mereka tidak terbatas, mereka tidak pernah puas dengan apa yang telah mereka peroleh. Di lain pihak, mereka lebih berhasrat untuk ditinggikan ke arah perhubungan dengan Tuhan Yang Maha Abadi.
9.    Segala bentuk karunia duniawi diciptakan untuk kepentingan manusia. Jadi manusia berhak memanfaatkan itu semua dengan cara yang sah.
10.Tuhan menciptakan manusia agar mereka menyembah-Nya. Tunduk patuh kepada Tuhan menjadi tanggung jawab manusia.
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS.51:56)

Ada 4 kata yang digunakan Al-Quran dalam menunjukan tentang manusia, yakni insan, An-Naas, Basyar dan bani Adam. Manusia disebut al-insan karena dia sering menjadi pelupa sehingga diperlukan teguran dan peringatan. Sedangkan kata An-Naas (terambil dari kata an-naws yang berarti gerak dan ada juga yang berpendapat bahwa ia berasal dari kata unaas yang berarti nampak) digunakan untuk menunjukkan sekelompok manusia baik dalam arti jenis manusia atau sekelompok tertentu dari manusia. An-Naas jika dilihat dari aspek sosial maksudnya adalah makhluk yang tidak mampu hidup tanpa bantuan orang lain (zoon politicon). Manusia disebut Al-Basyar, karena dia cenderung perasa dan emosional sehingga perlu disabarkan dan didamaikan. Manusia disebut sebagai bani Adam karena dia menunjukkan pada asal-usul yang bermula dari nabi Adam a.s. sehingga dia bisa tahu dan sadar akan jati dirinya. Misalnya, dari mana dia berasal, untuk apa dia hidup, dan ke mana ia akan kembali.
2.2 PROSES PENCIPTAAN MANUSIA
Menurut A. Tafsir (2008: 34) manusia adalah makhluk ciptaan Allah, ia tidaklah muncul dengan sendirinya atau berada oleh dirinya sendiri. Al-Qur’an surat Al-Alaq ayat 2 menjelaskan bahwa manusia itu diciptakan Tuhan dari segumpal darah, Al-Qur’an surat Al-Thariq ayat 5 menjelaskan bahwa manusia dijadikan oleh Allah, Al-Qur’an surat Ar-Rahman ayat 3 menjelaskan bahwa Ar- Rahman (Allah) itulah yang menciptakan manusia. Masih banyak sekali ayat Al- Qur’an yang menjelaskan bahwa yang menjadikan manusia adalah Tuhan. Jadi, manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan. Senada dengan pendapat A. Tafsir diatas, Jalaluddin (2002: 32) mengatakan bahwa seperti halnya alam semesta, maka dalam konsep filsafat pendidikan Islam, manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan. Hakikat penciptaannya adalah agar manusia menjadi pengabdi Penciptanya (ontology). Agar dapat menempatkan dirinya sebagai pengabdi yang setia, maka manusia dianugerahkan berbagai potensi baik potensi jasmani, rohani dan ruh (phylosophy of mind).
2.2.1 Proses Penciptaan Manusia dalam Pandangan Antropologi
Pada awalnya didunia ini hanya ada satu sel yang kemudian ber- kembang dan mengalami percabangan-percabangan. Percabangan ini me-ngakibatkan adanya variasi mahluk hidup didunia. Menurut Charles Darwin (1809-1882) dengan teori evolusinya dalam bukunya On The Origin of Species yang terbit tahun 1859 M, manusia merupakan hasil evolusi dari kera yang mengalami perubahan secara bertahap dalam waktu yang sangat lama. Dalam perjalanan waktu yang sangat lama tersebut terjadi seleksi alam. Semua mahluk hidup yang ada saat ini merupakan organisme-organisme yang berhasil lolos dari seleksi alam dan berhasil mempertahankan dirinya. Dalam teorinya ia mengatakan, “Suatu benda (bahan) mengalami perubahan dari yang tidak sempurna menuju kepada kesempurnaan”. Kemudian  ia  memperluas teorinya hingga sampai kepada asal-usul manusia.
Dapat disimpulkan bahwa manusia dalam pandangan Antropologi terbentuk dari satu sel sederhana yang mengalami perubahan secara bertahap dalam waktu yang sangat lama (evolusi). Berdasarkan teori ini, manusia dan semua mahluk hidup di dunia ini berasal dari satu moyang yang sama. Nenek moyang manusia adalah  kera. Teori Evolusi yang dikenalkan oleh Charles Darwin ini akhirnya meluas dan terus dipakai dalam antropologi.
Namun teori tersebut mempunyai kelemahan karena ada beberapa jenis tumbuhan dan hewan yang tidak mengalami evolusi dan tetap dalam keadaan seperti semula. Misalnya sejenis biawak atau komodo yang telah ada sejak berjuta-juta tahun yang lalu dan sampai saat ini masih tetap ada. Jadi dapat kita katakan bahwa teori yang dianggap ilmiah itu ternyata tidak mutlak karena antara teori dengan kenyataan tidak dapat dibuktikan
Atas teori Darwin tersebut P.P Grasse dalam bukunya L’homme Accusatioon (manusia sebagai tertuduh) juga berusaha mencari bukti kebenaran adanya evolusi. Secara kritis melalui penelitian yang teliti dan pengumpulan pendapat dari para ahli tentang perbedaan antara monyet dengan kera, perbedaan antara kera dengan siamang, perbedaan siamang dengan gorilla dan perbedaan gorilla dengan manusia. Baik secara fisiologis, anatomis, maupun biologis akhinya P.P Grasse menyimppulkan bahwa antara manusia dan kera adalah berbeda dengan kata lain tidak terbukti.
2.2.2 Proses Penciptaan Manusia dalam Pandangan Islam
Al-Qur’an menyatakan proses penciptaan manusia mempunyai dua tahapan yang berbeda, yaitu:
1.    Tahapan primordial
          Manusia pertama yang diciptakan Allah SWT adalah Nabi Adam a.s. yang diciptakan dari al-tin (tanah), al-turob (tanah debu), min shal (tanah liat),  min hamain masnun (tanah lumpur hitam yang busuk) yang dibentuk Allah dengan seindah-indahnya, kemudian Allah meniupkan ruh dari-Nya ke dalam diri (manusia) tersebut (Q.S. Al An’aam (6):2, Al Hijr (15):26, 28, 29, Al Mu’minuun (23):12, Al Ruum (30):20, Ar Rahman (55):4).
2.    Tahapan biologi
          Penciptaan manusia selanjutnya yaitu melalui proses biologi yang dapat dipahami secara sains-empirik. Didalam proses ini, manusia diciptakan dari inti sari tanah yang dijadikan air mani (nuthfah) yang tersimpan dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian nuthfah tersebbut dijadikan darah beku (‘alaqah) yang menggantung dalam rahim. Darah beku tersebut kemudian dijadikan segumpal daging (mudghah) dan kemudian dibalut dengan tulang belulang lalu kepadanya ditiupkan ruh (Q.S. Al Mu’minuun (23):12-14). Hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim menyatakan bahwa ruh dihembuskan Allah SWT  kedalam janin setelah ia mengalami perkembangan 40 hari nuthfah, 40 hari ‘alaqah dan 40 hari mudghah.
Penciptaan manusia dan aspek-aspeknya tersebut ditegaskan dalam banyak ayat. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Manusia tidak diciptakan dari mani yang lengkap, tetapi dari sebagian kecilnya (spermazoa).
2. Sel kelamin laki-lakilah yang menentukan jenis kelamin bayi.
3. Janin manusia melekat pada rahim sang ibu bagaikan lintah.
4. Manusia berkembang ditiga kawasan yang gelap didalam rahim seorang ibu.
          Berikut akan dijabarkan secara lebih rinci tentang penegasan-penegasan  tersebut:
1.    Setetes Mani
          Sebelum proses pembuahan terjadi, 250 juta sperma terpancar dari si laki-laki pada satu waktu dan menuju sel telur yang jumlahnya hanya satu setiap siklusnya. Sperma-sperma melakukan perjalanan yang sulit ditubuh si ibu sampai menuju sel telur karena saluran reproduksi wanita yang berbelok-belok, kadar keasaman yang tidak sesuai dengan sperma, gerakan ‘menyapu’ dari dalam saluran reproduksi wanita, dan juga gaya gravitasi yang berlawanan. Sel telur hanya akan mem-
bolehkan masuk satu sperma saja.
          Artinya, bahan manusia bukan mani seluruhnya, melainkan hanya sebagian kecil darinya. Ini dijelaskan dalam Al-Qur’an:
“Apakah manusia mengira akan dibiarkan tak terurus? Bukankah ia hanya setitik mani yang dipancarkan?” (QS Al Qiyamah:36-37).
2.    Segumpal Darah Yang Melekat di Rahim
Setelah lewat 40 hari dari air mani tersebut Allah menjadikannya segumpal darah yang disebut ‘alaqah. "Dia telah menciptakan manusia dengan segumpal darah" (Q.S. Al ‘Alaq(96):2).
Ketika sperma dari laki-laki bergabung dengan sel telur wanita, terbentuk sebuah sel tunggal yang dikenal sebagai “zigot”, zigot tersebut akan segera berkembang biak dengan membelah diri hingga akhirnya menjadi “segumpal daging”. Tentu saja hal ini hanya dapat dilihat oleh manusia dengan bantuan mikroskop.
Tapi, zigot tersebut tidak melewatkan tahap pertumbuhannya begitu saja. Ia melekat pada dinding rahim seperti akar yang kokoh menancap di bumi dengan carangnya. Melalui hubungan semacam ini, zigot mampu mendapatkan zat-zat penting dari tubuh sang ibu bagi pertumbuhannya. Pada bagian ini, satu keajaiban penting dari Al Qur’an terungkap. Saat merujuk pada zigot yang sedang tumbuh dalam rahim ibu, Allah menggunakan kata “alaq” dalam Al Qur’an. Arti kata “alaq” dalam bahasa Arab adalah “sesuatu yang menempel pada suatu tempat”. Kata ini secara harfiah digunakan untuk menggambarkan lintah yang menempel pada tubuh untuk menghisap darah.
3.    Pembungkusan Tulang oleh Otot
          Disebutkan dalam ayat-ayat Al Qur’an bahwa dalam rahim ibu, mulanya tulang-tulang terbentuk, dan selanjutnya terbentuklah otot yang membungkus tulang-tulang tersebut. “Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik” (Q.S. Al Mu’minun(23):14).
Para ahli embriologi beranggapan bahwa tulang dan otot dalam embrio terbentuk secara bersamaan. Karenanya, sejak lama banyak orang yang menyatakan bahwa ayat ini bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Namun, penelitian canggih dengan mikroskop yang dilakukan dengan menggunakan perkembangan teknologi baru telah mengungkap bahwa pernyataan Al-Qur’an adalah benar adanya.
Penelitian ditingkat mikroskopis menunjukkan bahwa perkembangan dalam rahim ibu terjadi dengan carayang sama seperti apa yang digambarkan dalam ayat tersebut. Pertama, jaringan tulang rawan embrio mulai mengeras. Kemudian sel-sel otot yang terpilih dari jaringan disekitar tulang-tulang bergabung dan membungkus tulang-tulang ini.
4.    Saripati Tanah dalam Campuran Air Mani
Cairan yang disebut mani tidak hanya mengandung sperma. Ketika mani disinggung di Al-Qur’an, fakta yang ditemukan ilmu pengetahuan modern juga menunjukkan bahwa mani adalah cairan campuran, “Dialah Yang menciptakan segalanya dengan sebaik-baiknya, Dia mulai menciptakan manusia dari tanah liat. Kemudian Ia menjadikan keturunannya dari sari air yang hina (air mani).” (Q.S. As-Sajdah(32):7-8).
          Kemudian setelah proses tersebut selesai dan Allah telah menyempurnakan ciptaan-Nya kemudian ditiupkan ruh kedalamnya dan dijadikannya pendengaran, pemglihatan dan perasaan. “Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan ruh (ciptaan)-Nya kedalam (tubuh)nya dan Dia  menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati bagimu, (tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur” (Q.S. As-Sajdah(32):9).
          Dari penjelasan-penjelasan diatas, jelas menegaskan bahwa manusia tersusun dari dua unsur yaitu materi dan immateri, jasmani dan rohani. Unsur materi (tubuh) berasal dari tanah dan roh manusia berasal dari substansi immateri. Tubuh mempunyai daya-daya fisik jasmani, yaitu mendengar, melihat, merasa, meraba, mencium dan daya gerak.roh mempunyai dua daya, yakni daya akal yang berpusat dikepala dan dayarasa yang berpusat pada hati. [Rohima Notowidagdo 1996:17]
          Unsur-unsur immateri lain yang ada pada manusia terdiri dari roh, qalbu, aqal dan nafsu. [Mustafa Zahri, 1976:121] Berikut uraiannya:

1.    Ruh
          Dalam Al-Quran istilah ruh sering disebutkan namun memiliki arti yang  berbeda. Adakalanya rruh diartikan sebagai pemberian hidup dari Allah kepada manusia (Q.S. Al-Hijr (15):29, Q.S. As-Sajadah (32):9). Adakalanya pula dimaksudkan sebagai penciptaan kepada Nabi Isa a.s. (Q.S. Maryam (19):17, Al-Anbiya (21): 91). Ruh juga menunjukan istilah Al-Quran (Q.S. Asy-Syuura (42):52). Ruh juga menunjukan wahyu dan malaikat jibril yang membawanya (Q.S. An-Nahl (16):2).
          Setinggi apapun ilmu seseorang tidak akan mampu menemukan hakikat ruh, karena ruh merupakan bagian dari rahasia Illahi dan manusia tidak mempunyai kemampuan penuh untuk memahaminya.
          Ruh ini mendapat perintah dan larangan dari Allah. Bertanggung jawab atas segala gerak-geriknyadan memegang komando ats segala kehidupan manusia. Ruh bukan jism (jasad) dan bukan pula arodl (tubuh). Keberadaanny tidak melekat pada sesuatu. Ia adalah jouhar (substansi) yaitu sesuatu yang berwujud dan berdiri sendiri. Roh bagian ini memiliki kesadaran diri dan telah ada sejak awal, karena telah diadakan oleh Allah. Hakikat ruh tidak dapat dikethuioleh manusia serta tidak dapat diukur dan dianalisis. Roh tetap hidup walau tubuh sudah hancur. (Qamarul Hadi, 1981: 135)
          Ibnu Qayyim menyatakan, ruh adalah jism yang berlainan hakikatnya dari jism yang dapat diraba. Ruh merupakan jism  nurani yang ringan dan tinggi, hidup dan selalu bergerak, yang  menembusi anggota dan menjalar kedalam anggota tubuh. Jism ini berjalin dan memberi bekas-bekas seperti gerak, masa dan berkehendak. Jika naggota-anggota tersebut sakit dan rusak serta tidak menerima bekas-bekas tersebut, ruh akan bercerai dan kembali ke alam arwah. Ruh yang mati dan hilang disebut nafs. (Qamarul Hadi, 1981: 135)
2.    Hati (qalb)
Qalb atau hati merupakan rahasia manusia yang merupakan anugerah Allah. Dengan qalb ini, manusia mampu beraktivitas sesuai dengan hal-hal yang dititahkanoleh Allah. Qalb berperan sebagai sentral kebaikan dan kejahatan manusia, walaupun pada hakikatnya cenderung pada kebaikan. Sentral aktivitas manusia bukan ditentukan oleh badan yang sehat sebagaimana yang dipahami oleh kebanyakann para ahli biologis. Nabi Muhammad SAW bersabda yang diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim: “Sesungguhnya didalam jasad manusia ada terdapat segumpal daging, apabila baik maka baiklah semua anggota tubuh dan jika rusak maka rusaklah semua anggota tubuh, ketahuilah ia itu adalah qalbu.” (Bukhari, Shahih Bukhari, 1994:49)
Menurut Al-Gazali,, qalb memiliki dua arti yaitu arti fisik dan metafisik. Arti fisik yaitu jantung, berupa segumpal daging yang berbentuk bulat memanjang yang terletak dipinggir dada sebelah kiri.  Qalb bertugas mengetur peredaran darah pada seluruh tubuh, yang didalamnya terdapat rongga-rongga  yang mengandung darah hitam, sebagai sumber ruh. Qalb dalam arti jantung tidak hanya dimiliki oleh manusia, tapi juga hewan. Bahkan dimiliki oleh orang yang sudah mati. Qalb disini memiliki arti jasmaniah yang dapat ditangkap oleh indera  manusia. (Amin Noersyam, tt:8)
Sedangkan arti metafisik yaitu batin sebagai tempat pikiran yang sangat rahasia dan murni, yang meeupakan hal yang lathif  (halus) yang dimarahi serta dihukum. Qalb akan menjadi bahagia manakal berada disisi Allah dan berusaha melepaskan belenggu selain Allah. Sebaliknya, apabila menyalahkangunakan kepatuhan dan ketaatan kepada Allah, qalb ini akan menjadi celaka. Dengan qalb manusia dapat menangkap rasa, mengetahui dan mengenal sesuatu dan pada akhirnya memperoleh ilmu mukasyafah (ilmu yang diperoleh melalui ilham Allah). (Dawan Raharjo, 1987:7)
Qalb dapat dikategorikan sebagai intuisi atau pandangan yang dalam, yang memiliki asa keindahan membawa manusia kealam kebenaran ketika peng-inderaan tidak memainkan perannya.
Qalb dapat mengetahui hakikat dari segala sesuatu yang ada. Jika Tuhan telah melimpahkan cahaya-Nya pada qalb, manusia dapat mengetahui segala sesuatu yang gaib. Dengan qalb manusia juga dapat mengenal sifat-sifat Allah. 9Mustafa Zahri 1976:121) yang nantinya ditransfer dan diinternalisasikanpada kekidupan manusia sehari-hari.

3.    Potensi Manusia (Akal)
Manusia memiliki sesuatu yang tidak ternilai harganya, anugerah yang sangat besar dari Allah yaitu Akal. Sekiranya manusia tidak diberi akal, niscaya perbuatan dan keadannya akan sama dengan hewan. Akal digunakan untuk berpikir dan memperhatikan baran yang ada didunia ini sehingga barang-barang yang halus dan tersembunyi dapat dipikirkan kegunaan dan manfaatnya.
Sebagai makhluk yang berakal manusia dapat mengamati sesuatu. Hasil pengematan tersebut dapat diolah sehingga menjadi ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan tesebut dapat dirumuskan ilmu baru yang akan digunakan  untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan menjangkau jauh keluar kemampuan fisiknya. Dengan ilmu pengetauan tersebut manusia mampu menguasai alam ini.
Walaupun akal memiliki keterbatasan-keterbatasan , namun manusia dituntut untuk menggunakan akal dengan sebaik-baiknya karena merupakan anugerah dari Allah SWT.

4.    Nafsu
Nafsu dalam istilah psikologi lebih dikenal dengan sebutan konasi atau daya karsa, konasi dalam bentuk bereaksi, berbuat, berusaha, berkemauan atau berkhendak. Aspek konasi ini ditandai dengan tingkah laku yang bertujuan dan dorongan untuk bergerak.
Nafsu dibagi dua kelompok yaitu gadhab dan syahwat.
a. Gadhab, mempunyai dua macam:
1.      Lawwamah, memiliki kecenderungan loba dan tamak, serakah dan suka makan banyak dan enak, sedangkan pengaruh yang ditimbulkan adalah kikir, tidak jujur, malas, dan mengejar kenikmatan.
2.      Ammarah, nafsu ini digolongkan dengan dua macam, yaitu:
1.      Pada manusia, nafsu ini memiliki kecenderungan untuk berkelahi, meniru, membantu, berteman. Pengaruh yang ditimbulkan adalah berani, kejam, persatuan dan gotong royong.
2.      Pada seseorang, nafsu ini memiliki kecenderungan murka, keras kepala, suka mencela, suka melawan dan suka berkelahi.
b. Syahwat, terdiri dari supiah dan muthmainnah
1. Supiah, memiliki kecenderungan insting ibu bapak, kesukaan diri ingin tahu suka campur tangan, rendah diri dan berketuhanan. Pengaruh yang ditimbulkan adalah memberi makan anak, sombong, gemar menyelidiki, mengomel, hidup mewah, ingin kuasa, penghambaan dan tawakal.
2.  Muthmainnah, memiliki kecenderungan berkemanusiaan, kebijakan,  kesusilaan, kecintaan, keadilan, dan keindahan.
Pada prinsipnya nafsu selalu cenderung kearah yang negatif, kecuali nafsu tersebut dapat dikendalikan dengan dorongan yang lain, seperti dorongan intelek (akal), hati nurani (qalb) yang selalu mengacu paa petunjuk-Nya. Karena tanpa kendali akal dan hati, nafsu akan menjadi kendali kehidupan manusia.

3.1 TUJUAN PENCIPTAAN MANUSIA
Segala sesuatu yang Allah ciptakan, baik dilangit maupun dibumi pasti ada tujuan dan hikmahnya. Tidaklah semata mata karena hanya suka-suka saja. Bahkan seekor nyamuk pun tidaklah diciptakan sia-sia. Allah SWT berfirman:
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثاً وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ
Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Q.S. Al Mukminun:115).
1.    Beribadah kepada Allah SWT semata
Manusia sebagai a’bid artinya hamba Allah, memiliki tugas untuk mengabdi atau beribadah kepada-Nya. Sebagaimana firman-Nya dalam  Q.S.Adz –Dzaariyat (51): 56
“Wamaa khalaqtul jinna wal insa illa liya’ buduun.”
Artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jindan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”
Dan firman Allah (Q.S.Al – Bayyinh: 5)
“wamaa umiruu illa liya’budullaha mukhlisiina lahuddin ”
Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya ”
Semua kehidupan manusia bertumpu untuk mencerminkan kepercayaan “Tauhid” dalam hidup dan kehidupan manusia, dalam wujud dan bentuk hidup dan kehidupan yang semata-mata untuk beribadah kepada Allah SWT. Dalam arti yang luas dan penuh, seperti makna pengertian ibadah dalam islam, “ibadah adalah Taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan mentaati segala perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan mengamalkan yang di izinkan-Nya.
Ibadah dibagi kedalam dua bagian, yaitu:
a.    Ibadah khusus (muakhadah) adalah apa yang telah ditetapkan Allah  perinciannya, tingkah dan tatacaranya tertentu. Contoh: shalat, zakat, puasa, haji.
b.    Ibadah umum (ghairo muakhadah) adalah segala amalan yamg diizinkan oleh Allah SWT termasuk segala  aktivitas manusia yang mengandung unsur ibadah, bila diniatkan dengan ikhlas karena Allah SWT. Hal ini tercermin dalam hidup kita, pada saat hendak melaksanakan shalat.”Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama kali menyerahkan diri(kepada Allah”. (Q.S. Al An’aam: 162-163).
2. Sebagai pemimpin (khalifah) di muka bumi
     Dengan kesempurnaan yang diberikan, Allah SWT menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Pengertian khalifah disini adalah penguasa atau pengganti Allah yang mengatur segala sesuatu yang terkandung dibumi agar bisa dimanfaatkan untuk kepentingan umat manusia. 
          Dalam Q.S. Al-Baqarah: 30 Allah SWT berfirman:
Dan ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi.” Mereka berkata, ”Mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di muka bumi itu orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah padanya, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji dan mensucikan Engkau?” Rabb berfirman, “Sesungguhnya aku lebih mengetahui yang tidak kamu ketahui.”
          Dengan demukian Allah telah memilih manusia untuk dijadikan khalifah di muka bumi. Walaupun manusia itu dikenal sebagai perusak yang akan selalu menumpahkan darah di muka bumi dibandingkan dengan malaikat yang selalu memuji, bertasbih kepada Allah Sang Pencipta. Semua ini hanya Allah-lah yang tahu, kehendak Allah tak terbatas yang meliputi langit, bumi dan seluruh alam semesta. Selain itu Allah hanya meridhoi bahwa kehalifahan itu dipegang oleh hamba-Nya yang shalih, yang dapat mengemban tugasnya dengan baik.
          Manusia sebagai khalifah di muka bumi, memunyai peranan penting yang dijalankan samapai akhir zaman ataupun kiamat, dan peranan penting ini pun sebagai bagian dari fungsi manusia sebagai khalifah, diantaranya :
1. Memakmurkan Bumi (al'imarah)
          Berupa pembangunan materi, dengan memanfaatkan kekayaan alam yang telah disediakan Allah di muka bumi tercinta ini dengan arahan dan syariat yang lurus, yaitu berdasarkan Al-Quran (hikmah) dan As-Sunah (hadist). Khalifah-pun berupaya untuk menjadikan umatnya atau manusia pada zamannya yang bermoral dan memiliki peradaban yang baik.

2. Memelihara Bumi (arri'ayah)
          Khalifah dalam menjalankan tugasnya harus memilki tujuan yaitu dengan menciptakan akidah dan akhlakul karimah. Selain menciptakan juga agar           selalu terpeliharanya akidah dan akhlakulkarimah tersebut. Menjaga bumi dari kerusakan atau kehancuran alam, baik itu yang disebabkan alam sendiri maupun oleh tangan-tangan jahil para manusia.

3.    Perlindungan
          Khalifah memiliki fungsi untuk melindungi bumi dan seisinya, yang terkandung atas lima pokok kehidupan yaitu: agama (aqidah), jiwa manusia, harta kekayaan, akal pikiran dan keturunan (kehormatan). Tugas yang ketiga ini sangat berat diembannya dan apabila dapat dilaksanakan, jika seorang khalifah tersebut dapat menunjukkan suatu kebenaran sebagai kebenaran dan dapat menegakkan di tengah-tengah kehidupan umat manusia serta dapat menunjukkan kepada umat manusia bahwa kebatilan adalah kebatilan dan dapat mengajak seluruh umat manusia untuk menumbangkannya bersama demi mencapai tujuan bersama yang diharapkan.


  



          Menurut para ahli manusia adalah makhluk yang terdiri dari jiwa dan tubuh. Dimana jiwa berada terperangkap didalam tubuh. Sebagai makhluk sosial, manusia adalah makhluk yang tidak mampu hidup sendiri tanpa bantuan orang lain (zoon politicon). Dan tujuan hidup manusia adalah untuk mendapatkan kebahagiaan. Sedangkan islam memandang manusia sebagai makhluk yang lahir dalam keadaan fitri, suci dan bersih adalah makhluk yang terpuji dan dimuliakan meskipun pada kondisi-kondisi tertentu manusia dipandang sebagai makhluk yang rendah. Dan makhluk yang paling sempurna adalah manusia.
          Manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Alloh. Dan bagaimana proses penciptaan manusia membuat salah satu ilmuan penasaran dan melakukan penelitian hingga menghasilkan teori evolusi dimana dia (Darwin) mengatakan bahwa manusia adalah keturunan kera. Namun Al-Quran secara tegas menentang teori tersebut dan Allah mengatakan dalam firmann-Nya bahwasannya manusia yang diciptakan pertama oleh-Nya adalah Nabi Adam a.s dari tanah dan kemudian manusia sekarang atau keturunan-keturunan Nabi Adam diciptakan dari sari pati tanah dalam bentuk air mani. Kebenaran yang dibawa oleh Al-quran sudah dibuktikan secara ilmiah dan diakui kebenarannya secara empirik.
          Allah tidak menciptakan sesuatu tanpa memiliki tujuan, sama halnya dengan penciptaan manusia. Tujuan Allah menciptakan manusia adalah untuk menyembah kepada-Nya. Selain itu, sebagai makhluk paling sempurna yang dilengkapi dengan akal, manusia juga diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi.
3.2 SARAN
          Setelah mengetahui hakikat dari manusia dan bagaimana manusia diciptakan serta tujuan penciptaan manusia oleh Allah SWT hendaknya setiap manusia bisa sadar akan tujuan hidupnya yaitu untuk mencari keridhaan Allah SWT, karena jiwa yang memperoleh keridhaan Allah adalah jiwa yang berbahagia, mendapat ketenangan, serta akan memperoleh imbalan surga. Sebagaimana firman Allah SWT yang artinya, “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhainya. Maka masuklah dalam jamaah hamba-hambaku. Dan masuklah ke dalam surgaku.” (QS Al Fajr: 27-30)
          Selama hidup didunia manusia wajib beribadah kepada-Nya dengan melaksanakan apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang. Sebagai khalifah hendaknya manusia mampu menjalankan amanatnya. Dengan melakukan segala sesuatunya didasarkan pada akal dan hati tidak dibutakan oleh nafsu semata hingga mengakibatkan kehancuran di muka bumi.


Zaim Elmubarok, dkk (2015) Islam Rahmatan Lil’alamin, Semarang: UPT UNNES Press.
Imam Nasruddin (Pendidik di MAN Sakatiga Kabupaten Ogan Ilir Provinsi Sumatera Selatan), Hakikat Manusia (Suatu Kajian menurut Filsafat Pendidikan Islam).
Muhammad Jawodiy, Konsepsi Tentang Manusia Dari Berbagai Pandangan.
Dwi Andriianty, Konsep Islam Tentang Proses Penciptaan Manusia (Dipost: 06 Mei 2013)
Hakikat Manusia Menurut Al-Qur’an (http://nuansaislam.com)